PATI – Sebuah video yang menampilkan grup drumband Mahadewa saat mengisi acara di sebuah institusi pendidikan agama mendadak viral di media sosial. Penampilan yang awalnya dimaksudkan untuk memeriahkan suasana tersebut justru memicu perdebatan sengit di kalangan netizen terkait etika dan kesopanan dalam acara bernuansa religius.

Peristiwa ini terjadi dalam acara Haflah Akhir Sanah Madrasah Diniyah I’anatut Thalibin di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Video yang awalnya diunggah oleh akun Instagram @recehxixi tersebut memperlihatkan aksi panggung drumband Mahadewa dengan koreografi yang sangat enerjik.

Kostum dan Koreografi Jadi Sorotan

Dalam rekaman yang beredar luas, grup drumband tersebut tampil dengan kostum yang mencolok dan gerakan dance yang sangat aktif. Sebagai bagian dari perayaan kelulusan atau akhir tahun ajaran (Haflah), grup ini sebenarnya diundang untuk menghibur para santri dan warga sekitar.

Namun, fokus kritik netizen tertuju pada pemilihan busana dan gerakan koreografi yang dinilai kurang sinkron dengan marwah lembaga pendidikan Islam (Madrasah). Banyak yang menganggap aksi tersebut terlalu “berani” untuk ditampilkan di lingkungan pesantren atau sekolah agama.

Netizen Terbelah: Antara Kreativitas Seni dan Norma Agama

Kolom komentar di berbagai platform media sosial kini dipenuhi oleh ribuan opini yang terbelah menjadi dua kubu utama:

  • Pihak Kontra: Menyayangkan pihak penyelenggara yang mengizinkan penampilan tersebut. Mereka menilai bahwa Haflah seharusnya dijaga kekhidmatannya dengan konten yang lebih sesuai dengan nilai-nilai kesantunan Islam.

  • Pihak Pro: Membela aksi tersebut sebagai bentuk hiburan rakyat dan kreativitas seni lokal. Menurut mereka, drumband adalah bagian dari tradisi kemeriahan di pedesaan Jawa yang tidak perlu dipermasalahkan secara dogma agama yang kaku.

Hingga saat ini, baik pihak manajemen drumband Mahadewa maupun pihak Madrasah I’anatut Thalibin belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik yang sedang berkembang di jagat maya.