
POJOK RUMPI – Jagat maya kembali dihebohkan dengan sebuah video viral yang menampilkan pertunjukan kesenian tradisional Kuda Kencak dari grup Sinar Budaya. Bukannya fokus pada kelincahan gerakan atau keindahan atraksi kudanya, perhatian netizen justru teralihkan (salfok) pada kostum yang dikenakan oleh para penarinya.
Video yang beredar luas di berbagai platform media sosial tersebut memicu perdebatan hangat terkait batasan antara inovasi kostum dalam seni pertunjukan dan pelestarian nilai-nilai kesopanan dalam budaya tradisional.
Dalam potongan video tersebut, tampak para penari pendamping Kuda Kencak mengenakan seragam yang dinilai netizen terlalu ketat dan kurang selaras dengan pakem kesenian tradisional. Penggunaan bahan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh ini dianggap tidak pantas untuk ditampilkan dalam sebuah acara yang biasanya dinikmati oleh semua kalangan, termasuk anak-anak.
“Seni itu indah, tapi kalau kostumnya seperti itu malah menghilangkan nilai seninya sendiri,” tulis salah satu netizen di kolom komentar yang memanen banyak dukungan.
Tak butuh waktu lama bagi unggahan tersebut untuk dibanjiri ribuan komentar. Banyak pihak menyayangkan pemilihan kostum grup Sinar Budaya tersebut. Kritik yang masuk sebagian besar menyoroti pentingnya menjaga marwah kesenian tradisional agar tidak terkesan murahan atau hanya mengejar sensasi visual semata.

Beberapa poin kritik utama yang muncul di antaranya:
-
Ketidaksesuaian Adat: Kostum dianggap keluar dari etika berpakaian masyarakat Timur yang menjunjung tinggi kesopanan.
-
Pergeseran Makna: Penonton lebih fokus pada penampilan fisik penari daripada nilai estetika Kuda Kencak itu sendiri.
-
Dampak pada Generasi Muda: Kekhawatiran akan contoh yang kurang baik bagi generasi muda yang sedang mempelajari budaya.
Fenomena viralnya video Kuda Kencak Sinar Budaya ini menjadi pengingat bagi para pegiat seni tradisional akan tantangan di era digital. Meskipun inovasi diperlukan agar seni tetap relevan dan menarik bagi audiens modern, prinsip dasar dan nilai filosofis dari kesenian tersebut tidak boleh ditinggalkan.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengelola grup Kuda Kencak Sinar Budaya terkait gelombang kritik yang menerpa mereka. Masyarakat berharap agar kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi grup kesenian lainnya dalam mengemas pertunjukan tanpa harus mengabaikan norma-norma yang berlaku.









Tinggalkan Balasan