TEKNO – Pendiri Microsoft sekaligus filantropis dunia, Bill Gates, kembali mengguncang industri energi melalui perusahaannya, TerraPower. Gates baru saja memulai proyek ambisius pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) generasi terbaru yang menggunakan teknologi garam cair sebagai sistem pendinginnya.

Proyek yang berlokasi di Kemmerer, Wyoming, Amerika Serikat ini, diklaim menjadi solusi energi bersih yang jauh lebih aman dan efisien dibandingkan desain reaktor nuklir konvensional yang ada saat ini.

Teknologi Natrium: Lebih Aman dari Air

Berbeda dengan PLTN tradisional yang menggunakan air sebagai pendingin, reaktor bernama “Natrium” milik TerraPower ini menggunakan natrium cair (garam cair). Penggunaan material ini memungkinkan reaktor beroperasi pada tekanan yang lebih rendah namun dengan suhu yang lebih tinggi.

“Teknologi ini memiliki kemampuan penyimpanan energi yang luar biasa, mirip dengan baterai raksasa, sehingga bisa bekerja berdampingan dengan sumber energi terbarukan seperti angin dan surya,” tulis laporan CNBC Indonesia yang dikutip pada Senin (9/3/2026).

Keunggulan utamanya adalah aspek keamanan. Dalam kondisi darurat, sistem garam cair ini mampu menyerap panas secara alami tanpa memerlukan pompa listrik tambahan, sehingga meminimalisir risiko kebocoran atau ledakan reaktor secara signifikan.

Ambisi Emisi Nol Bersih

Langkah Bill Gates ini merupakan bagian dari upaya global untuk mencapai target emisi nol bersih (net zero emission). Pembangkit listrik ini diharapkan mampu menghasilkan daya sebesar 345 megawatt, yang cukup untuk mengaliri listrik bagi ratusan ribu rumah tangga.

Meskipun nuklir seringkali menuai kontroversi, Gates optimistis bahwa nuklir generasi keempat ini adalah kunci untuk mengatasi krisis iklim. “Jika kita ingin mengatasi perubahan iklim, kita harus memiliki sumber energi yang tersedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa menghasilkan emisi karbon,” ungkap Gates dalam berbagai kesempatan.

Tantangan Biaya dan Regulasi

Meskipun teknologinya sangat menjanjikan, proyek ini menghadapi tantangan besar terkait biaya investasi yang membengkak serta proses regulasi yang sangat ketat dari Komisi Regulasi Nuklir (NRC). Namun, dengan dukungan pendanaan pribadi dari Gates dan subsidi pemerintah AS, proyek ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir dekade ini.

Bagi Indonesia, inovasi ini bisa menjadi referensi penting, mengingat pemerintah juga tengah mengkaji pemanfaatan energi nuklir dalam transisi energi nasional.