BREBES – Amarah warga Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, memuncak seiring merendamnya banjir terbesar dalam sejarah wilayah tersebut. Di tengah kepungan air setinggi pinggang, puluhan warga menggelar aksi orasi terbuka menuntut pertanggungjawaban nyata dari pemangku kebijakan atas bencana berulang yang kian ekstrem, Kamis (26/3/2026).

Massa yang tergabung dalam komunitas Masyarakat Jaga Kali (Masjaka) secara spesifik mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mencopot Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Agus Kuncoro. Kepemimpinannya dinilai gagal total dalam mengeksekusi normalisasi Sungai Babakan yang telah dijanjikan bertahun-tahun.

Orasi di Tengah Genangan: Gugat Anggaran Rp 570 Miliar

Suasana di titik terdampak banjir mendadak riuh saat warga membentangkan spanduk tuntutan di tengah rendaman air. Mahfudin, aktivis Masyarakat Jaga Kali, dalam orasinya menegaskan bahwa rakyat sudah tidak butuh lagi janji manis perencanaan atau seremonial tinjauan lapangan.

Sorotan utama dalam aksi ini adalah ketidakjelasan realisasi anggaran fantastis senilai Rp 570 miliar yang seharusnya dialokasikan untuk penanganan sistemik sungai. Warga mempertanyakan efektivitas penggunaan dana tersebut mengingat kondisi sedimentasi Sungai Babakan justru kian dangkal dan parah.

“Agus Kuncoro adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas mandeknya penanganan Kali Babakan. Kami mempertanyakan ke mana larinya anggaran Rp 570 miliar itu? Mengapa pengerukan sedimen dan pembangunan tanggul permanen tidak kunjung terealisasi padahal nyawa ribuan warga jadi taruhannya,” seru Mahfudin dengan nada tinggi.

Dampak Banjir Terbesar Sepanjang Sejarah

Bencana yang bermula pada Rabu (25/3/2026) malam pukul 22.00 WIB ini melumpuhkan sedikitnya tujuh desa, yakni Desa Cikeusal Lor, Buara, Kubangwungu, Karangmalang, Ketanggungan, Padakaton, dan Dukuhturi. Intensitas hujan tinggi di hulu yang tidak dibarengi dengan daya tampung sungai yang memadai membuat air melimpas ke pemukiman dengan cepat.

Selain merendam ratusan rumah, banjir ini memutus akses utama jalur mudik dan ekonomi di Jalan Jenderal Sudirman. Warga menilai ketiadaan drainase yang terintegrasi di sepanjang jalan protokol Ketanggungan memperparah genangan yang tak kunjung surut.

Pesan Terbuka untuk Presiden Prabowo

Aksi massa ini merupakan sinyal darurat bagi pemerintah pusat. Warga menekankan bahwa pergantian kepemimpinan di tubuh BBWS Cimanuk-Cisanggarung bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan langkah krusial untuk menyelamatkan aset dan keselamatan warga Brebes bagian selatan.

Ketidakpercayaan publik terhadap instansi terkait semakin menguat lantaran pola penanganan yang dianggap hanya bersifat reaktif tanpa menyentuh akar permasalahan di hulu maupun hilir. Warga mengancam akan melakukan aksi dengan massa yang lebih besar jika tuntutan pencopotan dan percepatan normalisasi tidak segera dipenuhi dalam waktu dekat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan pencopotan maupun klarifikasi penggunaan anggaran yang digugat oleh warga Ketanggungan. (kdj)