MOSKOW – Ketegangan antara Pemerintah Rusia dengan platform media sosial global kembali memuncak. Setelah sebelumnya membatasi akses Telegram, kini giliran WhatsApp yang terancam diblokir secara permanen di negara tersebut. Sebagai gantinya, Kremlin mulai mewajibkan warga untuk beralih ke aplikasi pesan singkat buatan dalam negeri yang diberi nama “Max”.

Langkah ini diambil menyusul kebijakan regulator komunikasi Rusia, Roskomnadzor, yang terus menekan Meta (induk perusahaan WhatsApp) karena dianggap tidak mematuhi aturan penyimpanan data lokal dan keterkaitannya dengan pelabelan “organisasi ekstremis” oleh Rusia sejak 2022.

Alasan Keamanan dan Kedaulatan Digital

Pemblokiran total terhadap WhatsApp diprediksi akan berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna di Rusia. Pihak WhatsApp sendiri menyatakan bahwa upaya mengisolasi warga dari layanan komunikasi privat yang aman adalah sebuah langkah mundur yang dapat memicu ancaman keamanan data bagi masyarakat.

Pejabat Rusia, Andrei Svintsov, menegaskan bahwa tindakan tegas ini dibenarkan karena status Meta sebagai organisasi ekstremis. Selain itu, Rusia menuding WhatsApp dan Telegram menolak menyimpan data pengguna di server dalam negeri Rusia, sebagaimana diwajibkan oleh hukum yang berlaku.

Mengenal ‘Max’, SuperApp Buatan Rusia

Sebagai alternatif dari WhatsApp, Pemerintah Rusia mempromosikan aplikasi ‘Max’. Berbeda dengan platform komunikasi global yang mengedepankan enkripsi end-to-end, Max memiliki karakteristik yang berbeda:

  • Konsep SuperApp: Mirip dengan WeChat di China, Max mengintegrasikan layanan pesan singkat dengan berbagai layanan publik pemerintah.

  • Tanpa Enkripsi Ketat: Berbeda dengan WhatsApp, aplikasi ini tidak mengusung enkripsi kuat, yang oleh para kritikus dinilai mempermudah pengawasan pemerintah.

  • Wajib Instal: Sejak tahun 2025, pemerintah Rusia telah mewajibkan aplikasi Max untuk terinstal secara bawaan (pre-installed) pada setiap perangkat baru yang dijual di negara tersebut.

  • Target Pengguna: Pegawai sektor publik, guru, dan siswa kini sudah diwajibkan untuk menggunakan platform ini guna koordinasi resmi.

Kritik dari Tokoh Teknologi

CEO Telegram, Pavel Durov, turut memberikan kritik keras terhadap kebijakan ini. Ia menilai pembatasan kebebasan berkomunikasi warga merupakan upaya pemerintah untuk memaksa masyarakat menggunakan platform yang mudah dipantau untuk kepentingan sensor politik.

Meskipun layanan Meta seperti Facebook dan Instagram sudah diblokir sejak 2022, masyarakat Rusia selama ini masih bisa mengaksesnya menggunakan VPN. Namun, dengan ancaman blokir permanen pada WhatsApp di tahun 2026, tantangan komunikasi digital di Rusia semakin besar.