JAKARTA — Pernyataan mengenai cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang disebut hanya cukup sekitar 20 hari sempat memicu perhatian publik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan kondisi tersebut bukan karena keterbatasan pasokan, melainkan terkait kapasitas penyimpanan energi nasional yang masih terbatas.

Menurut Bahlil, kemampuan penampungan cadangan BBM Indonesia sejak lama memang berada pada kisaran 21 hingga 25 hari. Hal tersebut berkaitan dengan kapasitas storage atau fasilitas penyimpanan BBM yang dimiliki negara saat ini.

“Ini bukan soal stok tidak ada, tetapi storage kita memang hanya mampu menampung sekitar 21 sampai 25 hari,” ujar Bahlil dalam keterangannya kepada media.

Penjelasan itu sekaligus meluruskan persepsi publik yang sempat menilai cadangan energi nasional berada dalam kondisi rawan. Bahlil memastikan pasokan BBM untuk kebutuhan masyarakat tetap aman dan terkendali.

Meski demikian, pemerintah mengakui kapasitas cadangan energi nasional masih perlu diperkuat. Saat ini Indonesia masih berada di bawah standar sejumlah negara yang memiliki cadangan energi strategis hingga 90 hari.

Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah tengah menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan baru. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar cadangan energi nasional diperluas hingga mampu bertahan sekitar tiga bulan.

Selain meningkatkan kapasitas storage, pemerintah juga terus memantau dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi distribusi energi dunia. Situasi tersebut dinilai menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan strategis.

Pengamat energi menilai peningkatan kapasitas penyimpanan BBM menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas pasokan nasional, terutama di tengah fluktuasi pasar energi global.

Dengan rencana penambahan storage tersebut, pemerintah berharap ketahanan energi nasional dapat semakin kuat dan mampu menghadapi potensi gangguan pasokan di masa depan.